Kamis, 25 Juli 2019

Hati-hati, Bu. Alergi Susu Sapi Dapat Membahayakan Bayi

Hati-hati, Bu. Alergi Susu Sapi Dapat Membahayakan Bayi

Alergi susu sapi adalah alergi yang paling banyak dialami oleh bayi dan anak-anak. Hal ini berhubungan dengan tingkat imunitas dan penerimaan tubuh terhadap kandungan di dalam susu sapi. Pada bayi yang diberi susu formula berbahan dasar susu sapi, seringkali mengalami kolik, kembung, dan masalah pencernaan. Bahkan ada kalanya bayi mengalami shock anaflaksis, yaitu penyempitan saluran pernapasan yang dapat mengakibatkan kematian. 

Ciri-Ciri Alergi Susu Sapi.

Kebanyakan anak dan bayi mengalami masalah kulit, pencernaan, dan pernapasan akibat alergi susu sapi. Sering pula diiringi oleh demam tinggi dan batuk berdahak yang berkepanjangan. Secara umum, ciri-ciri alergi dapat dilihat ketika si kecil mengalami gejala di bawah ini:

  • Perut kembung, nyeri, dan mual. Terkadang diikuti oleh muntah, gumoh dan sendawa.
  • Batuk berdahak, napas berbunyi (ngorok) dan pada beberapa kasus napas menjadi sesak.
  • Timbul ruam kemerahan atau bintik-bintik di sekitar kulit tangan, wajah, dan dada. Bibir dan area wajah membengkak, dan terasa nyeri serta kebas seperti disengat di sekitar mulut bayi.
  • Lidah dan amandel yang membengkak. Hal ini dapat dilihat saat bayi menangis. Amandel yang membengkak parah dapat menghalangi pernapasan dan jalan makanan bayi hingga membahayakan keselamatannya.

Pada umumnya gejala alergi ini dapat terlihat setelah tiga puluh menit sampai satu hari setelah konsumsi susu sapi. Jumlah susu yang diminum juga perlu diperhatikan, karena tingkat toleransi tiap bayi berbeda-beda. Efek paling membahayakan dari alergi pada susu sapi adalah shock anaflaksis.

Shock anaflaksis adalah keadaan saluran napas yang menyempit karena terpapar alergen. Kondisi ini terjadi sangat cepat, hanya beberapa menit setelah alergen dikonsumsi oleh bayi. Begitu bayi terpapar allergen (dalam hal ini adalah susu sapi), tubuhnya akan bereaksi berlebihan karena menganggap ada zat berbahaya yang masuk. Akibatnya tekanan darah akan turun drastis dan diikuti sesak dan ruam. 

Keadaan ini dapat membahayakan karena bayi akan kesulitan bernapas dan akhirnya kekurangan oksigen. Jika bayi terlihat sesak, wajahnya memerah, serta terlihat seperti akan menggaruk-garuk tubuhnya karena gatal, segera bawa ke UGD. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini akan mengancam nyawa si kecil.

Mencegah Terjadinya Alergi Susu Sapi.

Walau sangat rentan terjadi, namun kita bisa mencegah terjadinya alergi ini pada bayi. Cara paling ampuh tentu saja dengan memberikan ASI ekslusif selama enam bulan pertama usia bayi. ASI jelas lebih cocok dan lebih bergizi bagi bayi dibandingkan susu formula. Selain itu, bayi yang mendapat ASI (terutama kolostrum) akan lebih kuat imunitasnya. Cara lain yang dapat dilakukan di antaranya:

1. Memilih susu berbahan dasar selain susu sapi. Orang tua dapat memberikan susu kedelai atau susu kambing untuk bayi yang alergi pada susu sapi. Masalah yang dihadapi adalah, terkadang bayi yang alergi pada susu sapi juga alergi pada kacang kedelai. 

Sementara susu formula berbahan susu kambing sangat sulit didapatkan. Untuk mengolah susu kambing mentah hingga siap diminum oleh bayi juga butuh cara khusus yang tidak mudah.

2. Memilih susu dengan label hypoallergenic. Susu jenis ini relatif lebih aman karena memiliki faktor pencetus alergi yang lebih rendah. Jenisnya di pasaran memang tidak terlalu banyak, namun masih bisa ditemukan di hypermarket atau apotik.

3. Mengurangi konsumsi susu sapi. Pada anak yang alerginya tidak parah dan hanya bereaksi saat mengkonsumsi susu sapi berlebihan, cara ini dapat dipakai. Batasi konsumsi susu sapi dengan mengkombinasikannya dengan ASI. Untuk bayi di atas enam tahun, konsumsi makanan pendamping dan air putih yang cukup dapat mengurangi jumlah konsumsi susu sapi.

Pada umumnya reaksi alergi akan berkurang seiringi usia bayi dan meningkatnya imunitas. Namun sebelum itu, tetap waspadai reaksi alergi susu sapi pada bayi Anda.

0 komentar:

Posting Komentar